Monday, September 2, 2019

Presiden Jokowi dan Big Data: Kenapa Data lebih Berharga dari Minyak?

Dalam pidato kenegaraan Presiden Jokowi pada 16 Agustus 2019, dinyatakan bahwa “data adalah jenis kekayaan baru bangsa kita, kini data lebih berharga dari minyak”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah RI dibawah pimpinan Presiden Jokowi telah menyadari betapa bernilainya potensi yang terkandung dalam suatu himpunan data. Dalam konteks nasional, data dapat dieksploitasi guna mewujudkan kemakmuran bangsa seperti halnya eksploitasi minyak bumi yang mendatangkan kemakmuran di negara-negara kaya minyak.

Sebenarnya, Presiden Jokowi bukanlah yang pertama yang menyandingkan harga data dengan komoditas penting seperti halnya minyak bumi. Pada pembukaan Press Conference on Open Data Strategy tahun 2011, Neelie Kroes, yang saat itu menjabat sebagai Vice-Presicent of the European Commission responsible for the Digital Agenda, menyampaikan pidatonya yang berjudul "Data is the New Gold". Pesannya adalah bahwa pada era digital, data telah menjadi bagian yang sangat penting bagi peradaban manusia seperti halnya minyak bumi, yang pernah mendapat julukan the “black gold”.

Pertanyaannya, kenapa data menjadi demikian berharga? Sejak kapan?

Secara umum, siapa pun pasti paham bahwa data itu penting. Dengan adanya data, kita dapat mengetahui situasi yang sedang berlaku. Dengan kata lain, berdasar data yang dimiliki, kita dapat memahami realita yang sedang dihadapi. Oleh karenanya, kita dapat membuat perbandingan antara kondisi ideal (yang dicita-citakan) dengan kondisi nyata. Berdasarkan perbedaan antara realita dan kondisi ideal, kita dapat mengidentifikasi permasalahan. Setelah mengetahui masalah yang sedang berlaku, selanjutnya kita dapat bertindak untuk mencari penyebab permasalahan tersebut. Dengan mengetahui penyebab masalahnya, kita dapat merumuskan solusi penyelesaian masalah. Pada akhirnya, dengan diselesaikannya suatu permasalahan, kita dapat mengantarkan realita makin dekat dengan kondisi ideal (yang dicita-citakan).

Namun demikian, sebelum era digitalisasi data atau sebelum memasyarakatnya penggunaan internet, keberadaan data lebih cenderung bersifat tertutup dan terpisah-pisah. Sebagian besar data masih tersimpan dalam bentuk analog (belum dapat diolah dengan komputer digital) dan hanya dapat diakses oleh sebagian orang saja. Sebagai contoh, dokumen cetak yang memuat data tentang suatu organisasi ataupun peristiwa, tidak dapat beredar seluas dan secepat dokumen digital yang beredar di Internet. Demikian juga, buku-buku catatan pribadi, foto maupun video dokumentasi yang sifatnya analog, tidak akan bisa beredar luas dan cepat seperti halnya dokumentasi pribadi yang diunggah di blog ataupun akun media sosial.

Kini, dengan mendunianya Internet, data terkait hampir setiap obyek apapun, baik yang berupa teks, gambar maupun video, telah tersedia secara terbuka bagi siapapun dan dapat diakses dengan seketika. Dikatakan bahwa, saat ini Google telah mengetahui lebih dari 130 triliun laman web di Internet dan masih terus bertambah. Disamping itu, pengguna media sosial tahun 2019 juga telah mencapai lebih dari 3,4 miliar users yang aktif memproduksi data. Setiap orang yang tersambung dengan Internet, secara otomatis telah memiliki akses terhadap lebih dari 1.200 petabytes atau 1,2 juta terabytes atau 1,2 miliar gigabytes data yang sebagian besarnya tersedia di Google, Amazon, Microsoft, dan Facebook.

Namun demikian, ketersediaan data yang berlimpah, dapat diakses secara terbuka, dan dalam waktu yang hampir seketika (real time), bukanlah faktor penentu yang menjadikan data demikian berharga sehingga dapat disetarakan dengan komoditas bernilai tinggi seperti halnya emas dan minyak bumi. Analoginya demikian; berapapun banyaknya emas dan minyak bumi yang terkandung di perut bumi tak akan ada artinya jika tak ada teknologi untuk menambang dan mengolahnya menjadi produk yang bernilai. Demikian juga halnya dengan data, berapapun banyaknya data yang tersedia di Internet, jika tak ada teknologi dan metode untuk mengolah dan memberdayakannya menjadi sesuatu yang bernilai, maka data itu tak akan ada harganya.

Fenomena digitalisasi data dalam volume yang luar biasa besar dan tersedia terbuka di Internet telah memicu mendunianya istilah ‘big data’. Namun demikian, big data tidak hanya mengacu pada besarnya volume semata. Big data dapat didefinisikan sebagai aset informasi yang ekstrim dalam volume, velocity, dan variety sehingga membutuhkan teknologi dan metode analisis tersendiri guna merealisasikan nilai yang terkandung didalamnya secara efisien. Eksploitasi big data yang melibatkan teknologi dan metode analisis tertentu dikenal dengan istilah ‘big data analytics’.

Berdasar definisi big data tersebut, dapat ditarik 3 faktor kunci dalam fenomena big data, yaitu: 1) keberadaan big data itu sendiri, 2) big data analytics, serta 3) nilai yang dapat direalisasikan dari big data. Ibaratnya, jika nilai yang dapat direalisasikan itu adalah ‘emas’, maka big data dapat dianalogikan sebagai pegunungan yang mengandung potensi ‘emas’, dan big data analytics adalah alat dan cara untuk merealisasikan potensi ‘emas’ menjadi ‘emas’. Dengan demikian, big data menjadi berharga hanya jika ada teknologi dan metode yang mampu memprosesnya secara efisien dan menghasilkan nilai yang sepadan.

Beruntungnya, pada era big data sekarang ini, bukan hanya data saja yang tersedia berlimpah tetapi juga teknologi dan metode untuk memberdayakannya pun telah dikembangkan secara terbuka dan dapat digunakan oleh siapa saja. Ini berarti, pegunungan dengan potensi emas sudah didepan mata, alat dan cara untuk menambangnya pun telah disediakan. Sekarang, hanya tinggal kemauan, keberanian, dan komitmen untuk bertindak. Situasi ini lah yang menjadikan data begitu berharga, sehingga disepadankan dengan komoditas bernilai tinggi semacam emas maupun minyak bumi.

Kesimpulannya, bukan baru-baru ini saja data menjadi obyek yang demikian bernilai. Siapa pun tahu bahwa dengan adanya data kita dapat memahami realita. Kemudian, kita dapat mengidentifikasi permasalahan berdasarkan perbedaan antara kondisi ideal dan kondisi nyata yang dapat dihitung dengan adanya data. Namun demikian, keberadaan data yang terpisah-pisah, terbatas pada lingkup tertentu, sulit diakses, dan ketiadaan teknologi maupun metode untuk memberdayakannya membuat data tak begitu bernilai. Ibaratnya, seperti mengetahui potensi emas di perut bumi namun tiada alat untuk menambangnya. Kondisi ini berubah drastis ketika keberadaan data yang berlimpah (big data) disertai dengan tersedianya teknologi dan metode untuk mengeksploitasinya secara efisien (big data analytics). Terlebih lagi, keduanya dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang memiliki kemauan, keberanian, dan komitmen. Hal ini lah yang telah menjadikan data begitu berharga setara dengan emas maupun minyak bumi.

 buku "Teknologi Big Data" (hard copy) edisi Revisi
buku "Teknologi Big Data" (versi cetak) Edisi Revisi


Ref:
1.https://nasional.kompas.com/jeo/naskah-lengkap-pidato-kenegaraan-2019-presiden-jokowi

2.https://europa.eu/rapid/press-release_SPEECH-11-872_en.htm?locale=en

3.https://searchengineland.com/googles-search-indexes-hits-130-trillion-pages-documents-263378

4.https://thenextweb.com/contributors/2019/01/30/digital-trends-2019-every-single-stat-you-need-to-know-about-the-internet/

5.https://www.sciencefocus.com/future-technology/how-much-data-is-on-the-internet/

No comments: