Friday, July 20, 2007

Promosi Terakhir Neraka

Tersebutlah Tejo adalah seorang yang baik hati dan taat pada agamanya. Sesaat setelah dia meninggal dunia, tiba2 dia telah menemukan dirinya dihadapan seorang hakim akhirat di ruang sidang yang lengang tanpa audiences.
Hakim Akhirat : "Tejo, kamu berhak atas surga yang kamu harapkan selama hidupmu, apakah kamu tetap berkeinginan tinggal di surga?"
Tejo, tanpa pikir panjang menjawab : "Sudah pasti Bapak Hakim, itu adalah cita2 saya selama hidup, kapan saya mulai bisa tinggal di surga yang dijanjikan agama saya?"
Hakim Akhirat : "Oh begitu kah? Tapi, tunggu dulu. Sebelum kamu masuk ke surga, mari kita tengok surga dan neraka agar kamu bisa membandingkan. Kamu masih diberi kesempatan untuk memilih."
Lalu diajaklah Tejo ke pintu gerbang surga oleh Sang Hakim Akhirat, sesampainya disana Sang Hakim dengan perlahan membuka gerbang surga selebar-lebarnya.
Hakim Akhirat : "Inilah surga yang dijanjikan agamamu."
Tejo sedikit kaget karena surga yang ada di depan matanya sangat jauh berbeda dengan yang dia bayangkan selama hidupnya. Tidak ada bidadari cantik, tidak ada istana nan indah dan megah, tidak ada makanan yang lezat, tidak ada kemewahan sama sekali. Yang dia lihat hanyalah pemuka2 agama yang tengah khusuk berdoa, bermeditasi, dan mengaji di dalam hutan yang lengang dan dingin.
Hakim Akhirat : "Apakah kamu tetap ingin tinggal di surga?"
Tejo : "Sudah tentu Bapak Hakim, saya tetap ingin tinggal di surga."
Hakim Akhirat : "Baiklah, sekarang mari kita tengok neraka."
Sesampainya di gerbang neraka, Sang Hakim mempersilakan Tejo membuka gerbangnya sendiri. Rasa kagetnya jelas sekali tergurat di raut mukanya yang pucat. Neraka yang ia bayangkan penuh siksa dan derita ternyata penuh dengan kemewahan, penghuninya cantik dan tampan dalam busana yang serba mewah, disana-sini terlihat pesta pora nan meriah dan gemerlap, pria dan wanita terlihat saling berpasangan dengan mesranya di taman2 bunga yang indah tak terkira. Tejo pun bengong terperangah.
Hakim Akhirat : "Bagaimana Tejo, apa kamu tetap ingin tinggal di surga?"
Tejo terdiam sejenak, lalu menjawab agak ragu : "Sudah tentu Bapak Hakim, surga adalah yang terbaik yang dijanjikan agama saya."
Hakim Akhirat : "Benarkah? Baiklah, sekarang mari kita kembali ke kantor Kehakiman Akhirat, malam ini kamu istirahat di kantor saja. Jadi kamu masih punya waktu untuk berpikir."
Sesampainya di kantor Kehakiman Akhirat Tejo diajak makan malam sebelum beranjak istirahat. Wajahnya masih penuh tanda tanya akan kejadian yang saksikannya siang tadi.
Tejo dengan agak malu membuka mulutnya : "Bapak Hakim, saya pilih tinggal di neraka saja, saya sudah capek berdoa selama hidup saya di bumi"
Hakim Akhirat : "Oh begitu kah? Tidak masalah, adalah hakmu untuk memilih. Besok pagi kita berangkat ke neraka".
Keesokan harinya, sesuai janjinya, pagi-pagi buta Sang Hakim membangunkan Tejo dan mengantarkannya ke neraka. Hanya sekejap mata mereka telah tiba di depan gerbang neraka. Pintu pun terbuka secara otomatis dan segera tampak dua orang wanita cantik yang dengan ramah dan sopannya menyambut kedatangan Tejo. Tejo pun melangkah dengan pastinya. Begitu Tejo masuk gerbang pun langsung tertutup dan terkunci. Kejadian pun diluar dugaan, suasana mendadak berubah 180 derajat, kemewahan dan gemerlap yang ia saksikan pada kemarin harinya lenyap seketika berganti suasana yang sangat memilukan, disekelilingnya penuh dengan orang-orang yang menjerit-jerit kesakitan dalam siksaan yang tak pernah ia lihat di bumi.
Tejo pun berteriak :"Pak Hakim, kenapa suasana jadi seperti ini, tidak sama dengan kemaren, anda menipu saya!"
Dari luar gerbang terdengar suara Hakim Akhirat setengah tertawa : "Oh ya, saya lupa, kemarin adalah hari terakhir promosi neraka!"

"Paraphrase dari karya Bhante Panya."

No comments: